Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Gempa Antartika Sampai Demo Tuntut Pembebasan Oposisi Rusia

Gempa di Antartika sampai demo besar di Rusia menuntut pembebasan aktivis oposisi Alexey Navalny.

Berbagai peristiwa menarik terjadi di berbagai belahan dunia pada Minggu (24/1) kemarin. Mulai dari gempa di Antartika sampai demo di Rusia menuntut pembebasan aktivis oposisi Alexey Navalny. CNNIndonesia.com merangkum sejumlah kejadian tersebut dalam kilas internasional.


1. Gempa 7,1 M Guncang Antartika, Chile Keliru Beri Peringatan Tsunami

Dua gempa bumi melanda wilayah Chile pada Sabtu (23/1) malam. Pertama terjadi di Antartika diikuti oleh gempa kedua di dekat ibu kota Santiago.

Kementerian Dalam Negeri Chile mencuit dalam akun Twitter mereka, gempa pertama berkekuatan 7,1 melanda pukul 20.36 malam. Gempa berpusat di 216 kilometer timur laut dari basis ilmiah O`Higgins Chilean.

Mulanya mereka menyatakan gempa berpotensi tsunami. Karena itu mereka menimbau masyarakat di daerah pesisir Antartika dievakuasi.

Akan tetapi, pemerintah Chile menyatakan keliru setelah peringatan tsunami melalui pesan singkat yang mereka kirimkan ke ponsel penduduk usai gempa membuat panik.

Akibat kesalahan pesan tersebut, orang-orang di kota-kota pesisir termasuk La Serena di sebelah utara Santiago dan Valparaiso mulai meninggalkan daerah yang dekat dengan pantai, sampai muncul laporan bahwa itu adalah peringatan palsu.

[Gambas:Video CNN]


2. Polisi Rusia Tangkap 3.400 Pendemo Pembebasan Navalny

Polisi Rusia menangkap lebih dari 3.400 orang dalam aksi demonstrasi menuntut pembebasan aktivis oposisi, Alexei Navalny, pada Sabtu (23/1). Aksi tersebut berlangsung di sejumlah kota di tengah suhu serendah minus 50 derajat Celcius.

Di Moskow, sekitar 15 ribu demonstran berkumpul di sekitar lapangan Pushkin di pusat kota. Bentrokan antara polisi dan demonstran akhirnya pecah. Pendemo diseret oleh petugas anti huru-hara berhelm ke bus polisi dan truk penahanan. Sementara beberapa dipukul dengan tongkat.

Istri Navalny, Yulia, termasuk di antara massa demonstran yang ditangkap.

Polisi akhirnya mendorong demonstran keluar dari alun-alun, tapi ribuan orang justru berkumpul kembali di sepanjang bulevar. Banyak yang melemparkan bola salju ke polisi sebelum membubarkan diri.

Selain itu, beberapa orang juga berdemo di dekat penjara tempat Navalny ditahan. Polisi pun menangkap sejumlah pengunjuk rasa di sana.

Navalny ditangkap Pada 17 Januari lalu, ketika ia baru kembali dari Jerman. Dia menghabiskan waktu lima bulan di negara itu untuk dirawat dan memulihkan diri dari keracunan zat saraf.

Navalny menuduh insiden tersebut didalangi oleh pemerintah Rusia. Hal itu didasarkan pada laporan laboratorium di Jerman, Prancis, dan Swedia, serta tes oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), yang menetapkan bahwa ia terpapar zat saraf Novichok yang dikembangkan di era Soviet.

Tuduhan itu disangkal oleh pemerintah Rusia. Selain itu, pemerintah Rusia menuturkan Navalny melanggar persyaratan hukuman percobaan dalam hukuman pidana 2014 dengan tinggal di Jerman.

Navalny menyebut hukuman itu sebagai perkara yang dibuat-buat.

[Gambas:Video CNN]


3. Jerman Akan Pakai Obat Covid yang Pernah Dipakai Trump

Jerman akan menjadi negara pertama di Uni Eropa (UE) yang bakal menggunakan pengobatan antibodi eksperimental yang pernah digunakan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membantunya pulih dari covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan Jens Spahn pada Minggu (24/1).

"Pemerintah telah membeli 200 ribu dosis seharga 400 juta euro," kata Spahn seperti dikutip dari AFP, Minggu (24/1).

Saat terpapar covid-19 pada Oktober lalu, Trump mengatakan ia sempat menerima terapi antibodi yang dikembangkan oleh perusahaan AS, Regeneron. Itu dikenal sebagai REGN-COV2.

Terapi itu sebenarnya belum mendapatkan persetujuan.

Contact us